"I was shocked and disturbed by the video," said one viewer. "It's not okay to pretend to be possessed or to perform some sort of dark ritual. It's just not right."

Di tengah hiruk-pikuk perkembangan kawasan Serpong yang modern dan serba cepat, dinamika kehidupan sehari-hari seringkali menghadirkan cerita unik yang tak terduga. Salah satu tren yang belakangan menyita perhatian netizen, khususnya di kalangan pecinta konten lifestyle dan hiburan (seperti yang sering diulas di komunitas ), adalah maraknya drama prank ojol (ojek online) dan kang paket antar makanan .

Witnesses claim that Ojol Kang Paket started to speak in a strange, altered voice, claiming that the package contained a "special" item that would bring the customer "good fortune." The driver then proceeded to perform a series of strange rituals, including dancing and chanting, much to the shock and amusement of onlookers.

"Ini prank, Mas! Tadi si kucing minta dianterin jalan-jalan doang. Haha." Budi: (Tertawa lega) "Aduh, Mas Ridho. Kirain hantu. Untung kucingnya gigit gak ya?"

Pesan kepada penonton: "Jangan pernah meremehkan perjuangan para pejuang jalanan. Prank boleh, tapi harus tetap memanusiakan manusia."

As digital media continues to grow, these hyperlocal, drama-infused stories will undoubtedly keep dominating our feeds, constantly reminding us of the resilience, humor, and heart of the everyday heroes navigating our city streets.

Drivers depend on strict performance ratings and acceptance rates. A "prank" involving a fake cancellation can disrupt their daily targets and income tracking.

Tidak hanya kalangan kreator asing, praktik serupa juga dilakukan oleh warga lokal. Pada Agustus 2022, sepasang suami istri asal Gianyar, Bali, diamankan oleh Polda Bali karena membuat konten dewasa yang melibatkan driver ojol. Sang suami (inisial GGG) bahkan merekam istrinya berhubungan badan dengan driver ojol yang dipesan melalui aplikasi antar makanan.

Namun, belakangan ini, interaksi harian antara ojol, kurir paket, dan pelanggan di Serpong tidak hanya berhenti sebagai transaksi ekonomi biasa. Fenomena tersebut kini bergeser menjadi komoditas hiburan (entertainment) yang sangat diminati di media sosial melalui konten berbentuk "drama prank".